Showing posts with label chile. Show all posts
Showing posts with label chile. Show all posts

Wednesday, March 28, 2007

Cerita tentang orang Mapuche

Yang tersayang Adna dan Ilham,

Di surat-surat sebelumnya bude Ocie sudah cerita tentang kota Santiago dan Valparaiso di Chile. Sekarang bude ingin cerita tentang perjalanan bude Ocie dan oom Andre ke daerah orang asli di Chile, yaitu orang Mapuche. Penduduk asli di Amerika Latin ini ada beberapa, di Chile mereka dari suku bangsa Mapuche, di Peru mereka dari suku bangsa Quechua dan Aymara, sedangkan di Argentina dan Uruguay, mereka dari suku bangsa Quechua dan Guarani.

Kami sewa mobil untuk pergi ke tempat tinggal orang Mapuche di Chile. Hari pertama kami berangkat ke Temuco, 674 km dari Santiago. Cukup jauh juga ya, lebih jauh kalau kita naik mobil dari Jakarta ke Sragen, misalnya. Tapi karena di sini jalan tol Pan America yang menghubungkan negara-negara di Amerika Latin ini sangat mulus, maka kami bisa sampai di Temuco dalam waktu kurang dari 7 jam. Itupun sudah termasuk berhenti beberapa kali untuk isi bensin, makan siang, dan lihat-lihat kota yang dilewati. Pada perjalanan ini kami makan siang di sebuah rumah tua yang diubah jadi hotel bagus sekali dan punya rumah makan yang mewah. Walaupun kelihatannya mewah, ternyata harganya masih jauh lebih murah daripada makan di hotel bintang lima di Jakarta. Seringnya sih kalau sedang jalan-jalan naik mobil, kita beli roti saja di pom bensin. Pom bensin di sini asik deh, lengkap dengan restoran, kamar mandi yang bersih yang kadang bisa juga lengkap dengan tempat mandi, dan supermarket kecil yang lengkap. Kita bisa makan sederhana yang cepat ataupun dengan menu betulan yang agak lama. Tapi seringnya kami isi bensin sambil ngopi, karena kan bude Ocie dan oom Andre harus gantian nyopirnya.

Besoknya kami langsung pergi ke daerah yang paling miskin di Chile, namanya Puerto Saavedra. Dulu daerah ini pernah kena tsunami, dan sampai sekarang masih ada sisa-sisa bangunan yang dulu terkena tsunami. Di Puerto Saavedra ini tinggal bangsa asli Mapuche. Sekarang pemerintah Chile membuat kompleks perumahan baru untuk tempat tinggal mereka. Tapi lucunya, walaupun mereka diberi rumah baru, mereka tetap membawa barang-barang yang dulu ada di rumah mereka yang lama. Mereka masih menyimpan barang-barang yang sebetulnya rongsokan, seperti seng-seng yang sudah karatan, atau barang lain yang sebetulnya tidak cocok untuk rumah baru mereka. Jadi walaupun sudah diberi pagar yang bagus, mereka tetap menempelkan seng karatan untuk bahan pagar mereka, kan jadinya kelihatan kumuh lagi. Kenapa begitu ya?

Karena bude Ocie dan oom Andre datang kesana pada musim dingin, maka kebanyakan rumah makan tutup. Hanya ada satu rumah makan yang buka dan kelihatannya ramai, maka kami berdua masuk kedalamnya. Ternyata, banyak sekali orang Mapuche yang sedang ada di sana. Mereka sedang mempersiapkan acara adat di sana. Banyak sekali makanan khas mereka di atas meja dan beberapa orang sedang berdandan memakai pakaian khas Mapuche. Beruntung sekali bude bisa lihat mereka dari dekat, karena jarang lho bisa lihat acara adat mereka. Jadinya sambil menunggu makan siang yang tentu saja lain daripada yang mereka siapkan, kami berdua bisa melihat bagaimana persiapan acara adat mereka.

Setelah dari Puerto Saavedra, kami langsung berangkat ke kota Pucon, dengan melewati kota Villarica. Villarica dan Pucon berada di pinggir danau Villarica. Kedua kota ini terkenal sebagai kota resort, dan sangat disukai oleh penduduk Chile. Kalau hari Sabtu dan Minggu, orang dari Santiago banyak berdatangan kesini. Banyak sekali penginapan dan hotel di pinggri danau di sini. Pemandangannya indah sekali. Kami berdua juga menginap di salah satu penginapan di sini, karena sebetulnya kami akan menginap di rumah temannya oom Andre di Curraruehue (bacanya Kurarewe), tapi pas kita mau berangkat, alat pemanas di rumah mereka meledak, jadi tidak ada pemanas, padahal di atas gunung kan dingin sekali, jadi kami berdua tidak jadi deh tinggal di rumah mereka. Bayangkan kalau harus mandi pake air yang sedingin es. Terus bagaimana bisa tidur ya kalau tidak ada pemanas? Mereka sih punya perapian dengan kayu, jadi mungkin untuk tidur sih tidak masalah, tapi brrrrrr kebayang dinginnya kalau harus mandi pagi.....

Keesokan harinya, oom Txus dan tante Anna Lu, teman oom Andre dari Spanyol yang bude ceritakan sebelumnya, bersama kami pergi ke gunung dan ke perbatasan antara negara Chile dan Argentina. Pada perbatasan Chile, kami tanyakan apakah bisa ke Argentina atau tidak, dan mereka bilang sih bisa saja kalau mau tapi harus tinggalkan mobil sewaan di perbatasan. Tapi kalau mau lihat-lihat saja sih boleh. Akhirnya kami berempat pergi ke perbatasan dan menyeberang ke Argentina. Lucunya, jarak antara petugas perbatasan Chile dan Argentina jauh sekali, jadi kami bisa ke Argentina tanpa harus diperiksa paspornya dan dicap. Kebayang tidak sebuah perbatasan negara di gunung yang sedang ditutupi salju? Sepi dan kita bisa seenaknya nyebrang ke negara lain... Di perbatasan itu ada sebuah taksi. Supirnya menunggu dibawah pohon, dan kalau kita lihat dari jauh, seperti seorang penjahat di film-film yang sedang nunggu mangsanya... hehehe... Ternyata supir itu sedang nunggu penumpang yang akan dibawa oleh taksi lain dari Argentina. Lucu ya, bisa tuker taksi disana. Tapi kalau dipikir, jauh juga itu supir taksi ngambil penumpang! Perbatasan ini jaraknya sekitar 20 km dari kota terdekat dan melewati gunung bersalju.

Di pegunungan ini banyak terdapat pohon yang menjadi lambang orang Mapuche, yaitu pohon Araucania. Daunnya tidak gugur pada musim gugur, jadi walaupun musim dingin, hutan dengan pepohonan Araucania masih terlihat hijau. Katanya sih pohon ini bawa sial kalau ditebang, makanya di tengah jalan bisa ada pohon ini dan jalannya memutari pohon ini.

Setelah dari sana, kita jalan melewati perkampungan orang Mapuche. Kita tidak pergi ke puncak gunung tempat tinggal mereka yang asli karena harus naik mobil yang khusus untuk naik gunung. Tapi kita melewati perkampungan mereka di Curraruehue, dan di sana kita bisa lihat bagaimana mereka hidup. Sayangnya pendidikan mereka kurang memadai, sehingga banyak yang hanya jadi pegawai rendahan saja, sehingga tentu saja tidak bisa membiayai hidup mereka dan keluarganya. Banyak anak-anak yang ditinggalkan oleh orang tuanya begitu saja, dan anak-anak inilah yang sekarang tinggal di rumah yatim piatu dekat tempat tinggal Tante Anna Lu dan Oom Txus. Rumah yatim piatu ini terdiri dari bangunan tempat tinggal yang punya 2 lantai, bangunan sekolah, bangunan tempat makan dan bermain serta lapangan bermain dan lapangan olah raga. Lengkap ya? Kompleks rumah yatim piatu ini adalah sumbangan dari pemerintah Basque di Spanyol. Bude Ocie dan oom Andre diajak oleh tante Anna Lu dan oom Txus untuk lihat-lihat ke rumah yatim piatu itu. Dari luar bisa kita bilang bahwa mereka itu dalam bangunan yang bagus, dan memang di dalamnya juga, tapi kalau lihat anak-anak yang ada disana, rasanya sedih gitu. Di salah satu ruangan tempat mereka bermain, ada seorang ibu muda yang bermain bersama salah satu anak disana. Ternyata ibu muda itu menyerahkan anaknya untuk diasuh oleh rumah yatim piatu itu karena dia tidak sanggup untuk merawatnya sendiri. Kasihan ya? Kami juga lewat di tempat mereka menyimpan sepeda-sepeda, wah masih bagus-bagus, dan pasti anak-anak itu senang main sepeda seperti mas Adna dan adek Ilham kalau cuacanya sedang tidak musim dingin. Yang unik adalah bangunan dimana mereka makan dan berkumpul dan bermain. Bentuknya seperti payung, terbuat dari kayu, dan katanya ini adalah arsitektur bangsa Mapuche.

Bangsa Mapuche adalah satu dari 3 suku bangsa Indian yang termasuk kelompok bahasa Araucanian yang survive dan tinggal di daerah yang sekarang disebut Chile dan Argentina sebelum bangsa Inca dan Spanyol datang. Mereka mengklaim bahwa bangsa mereka tidak pernah dikalahkan oleh bangsa Spanyol maupun Inca. Bangsa Mapuche, yang namanya berarti ’orang bumi’, kelihatan seperti orang Mongolia/Cina, sehingga sangat berbeda dengan orang Chile yang berasal dari Eropa.

Kebanyakan orang Mapuche tinggal di bagian Tengah Selatan Chile, di Propinsi ke-8, ke-9 dan ke-10, tapi yang terbanyak adalah di propinsi ke-9. Tanah yang mengelilingi mereka terkenal karena lembah-lembahnya yang subur dan sangat indah dan gunung-gunung yang menjulang tinggi. Namun sekarang ini sudah banyak orang Mapuche yang pindah ke kota-kota besar di Chile.

Mas Adna dan adek Ilham tahu tidak kalau bentuk negara Chile itu seperti cacing, panjang tapi sempit. Lebarnya hanya sekitar 161 km, tapi panjangnya mencapai 4.265 km. Jadi panjang negaranya mencapai 25 kali lebarnya. Lucu ya? Dan yang lebih unik lagi, sepanjang bagian Baratnya adalah lautan Pasifik, dan di bagian Timurnya adalah pegunungan Andes. Negara ini terletak di area yang sering dilanda gempa, dan juga pernah dilanda tsunami, seperti yang bude ceritakan di cerita sebelumnya. Nah di tahun 1818 ketika Chile membebaskan diri dari Spanyol, bangsa Mapuche diberi areal khusus yang disebut La Frontera. Tapi bangsa Mapuche baru mengakuinya di tahun 1881, karena terdesak dan mereka harus mengakui sebagai bagian dari bangsa Chile dan sekarang diberikan tempat tinggal khusus.

Biasanya rumah tradisional bangsa Mapuche sangat sederhana, dengan atap rumbia dan lantai tanah. Namun sekarang sudah banyak dari mereka yang tinggal di perumahan yang disubsidi oleh pemerintah, jadi sudah lebih modern tapi masih sederhana, dengan lantai kayu dan atap seng. Walaupun demikian, kebersihan dan kesehatan di perumahan mereka masih buruk, tapi sudah jauh lebih baik sekarang ini.

Bangsa Mapuche pada dasarnya adalah petani tradisional. Mereka yang tinggal di gunung biasanya bertani, sedangkan yang tinggal di pantai biasanya nelayan. Banyak wanita Mapuche yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di kota-kota. Anak muda biasanya meneruskan pindah ke kota-kota untuk mencari kesempatan bekerja yang lebih baik, karena sekarang ini semakin sedikit tanah yang bisa mereka kerjakan di tempat reservasi mereka.

Bangsa Mapuche sangat pandai dalam membuat karya-karya seni. Mereka mahir membuat hiasan-hiasan rambut, baju dan lain-lain untuk dipakai oleh wanita Mapuche. Tekstil mereka merupakan campuran warna yang indah, dengan desain yang mereka pinjam dari bangsa Inca, yang didominasi kotak-kotak, bentuk anak tangga dan garis-garis zigzag. Ada juga yang mahir dalam menganyam karpet dan membuat pot-pot keramik.

Musik tradisional bangsa Mapuche adalah musik folklore. Musik ini sangat dipengaruhi oleh nenek moyang mereka, begitu juga karya sastra mereka. Jadi musik mereka disebut ’rhapsodi Araucanian’ dan sajak mereka disebut ’sajak Araucanian’. Dalam hal musik, tidak pernah ada kelompok yang bernyanyi bersama. Mereka selalu menyanyi solo dan selalu ada improvisasi. Alat musiknya terbatas pada trutruka (terbuat dari bambu dan cula sapi), pifüllka (sebuah flute kayu dengan dua nada), kultrun (drum kecil berbentuk mangkok) dan trompe (atau harpa Yahudi).

Menarik kan cerita tentang tanah Mapuche ini? Tapi sayang mereka sekarang masih menjadi bangsa kelas-2 di Chile. Mudah-mudahan dengan banyaknya anak muda yang tinggal di kota-kota hal ini bisa diatasi dan mereka bisa sama derajatnya dengan bangsa Chile yang lain.

Sampai jumpa di cerita berikutnya ya...

Salam sayang,

Bude Ocie

Tuesday, March 27, 2007

Surat dari Valparaiso, Chile

Yang tersayang Adna dan Ilham,

Kali ini bude mau cerita tentang perjalanan bude, oom Andre dan oom Alejandro ke salah satu World Heritage Sites-nya Unesco yang sangat unik, yang terletak di kota Valparaiso.

Kami naik metro ke stasiun Pajaritos (yang artinya Burung Kecil), yaitu stasiun dimana kita bisa meneruskan perjalanan naik bis. Langsung deh kita berangkat naik bis yang sudah ada pas di depan pintu keluar stasiun. Sangat efisien sekali pengaturan transportasi di sini. Kita bisa naik metro, dan ganti bis ke luar kota, dengan hanya beberapa langkah saja. Nggak ada tuh calo-calo yang maksa kita naik bis ini atau yang itu, terserah kita aja. Tiket juga nggak harus dibeli di loket tapi bisa dibeli di atas bis, dan tetap pake tiket resmi. Jadi nggak ada tuh antrean beli karcis di loket. Tiket ke Valparaiso yang jauhnya 120 km adalah 5 dolar. Nggak murah-murah amat, tapi nyaman sekali bisnya, dan dengan jalan tol sampai Valparaiso, kita hanya membutuhkan waktu 1 jam 20 menit saja. Itu juga karena banyak polisi di jalanan yang maksa supir bisnya melaju dengan kecepatan tertentu.

Oke singkat kata, sampailah kami di kota Valparaiso. Dari jauh sudah terlihat uniknya kota ini. Kayaknya nggak ada deh kota seperti ini di dunia. Sangat unik. Bukan kota yang modern, bangunan-bangunannya tua tapi bukan seperti bangunan tua di Eropa. Kota ini terletak di pinggir laut, tapi di atas bukit. Kebayang kan gimana. Tapi yang penting, arsitektur kotanya sangat eklektik. Eklektik itu artinya campur-campur berbagai gaya. Sangat tidak mau menuruti kaidah-kaidah pengaturan kota modern yang teratur. Kota ini mempunyai aturan yang tidak teratur, hehehe, susah ya menjelaskannya, tapi yang jelas, jalan-jalannya berliku, naik ke atas bukit dengan jalan yang berliku pula, atau pake lift (seperti trem ke atas bukit) yang umurnya sudah sekitar 120 tahun. Ada 13 buah lift di sepanjang kota bukit ini untuk membawa kita ke atas. Dan coba tebak apa yang ada di bukit paling atas? Kuburan! Bayangkan kuburan yang guedeeee banget, letaknya di puncak bukit, dan memandangi kotanya dari atas. Sangat aneh dan unik. Belum pernah bude lihat yang begini. Tapi ini juga yang membuat kotanya jadi bersuasana magis, kalau malam mungkin agak menakutkan ya?

Yang membuat Valparaiso jadi salah satu World Heritage Sites adalah bagian kotanya yang bernama Cerro Conception dan Cerro Allegro. Di sini terlihat bangunan-bangunan tua yang diukir ke bebatuan perbukitannya. Jadi bangunan-bangunan ini langsung ada di dalam atau di atas batu-batu. Unik deh. Kayak bangunan di Bandung di belokan Wastukencana, Tamansari dan Riau, tapi bedanya ini ada di ribuan bangunan disana! Selain itu, karena letaknya di pinggir laut, mereka menggunakan seng gelombang untuk penutup atap dan penutup dindingnya. Waktu bude tanya kenapa begitu, mereka jawab bahwa kegunaan seng ini adalah untuk melindungi dari ganasnya angin laut yang akan bikin kayu cepat lapuk (sehingga mereka nggak banyak menggunakan kayu) serta menahan garam yang dibawa angin, sehingga akan karatan. Dan percaya atau tidak, orang Valparaiso senang dengan segala sesuatu yang tua-tua. Jadi walaupun kotanya kelihatan tambah tua dengan adanya karat-karat itu, mereka membiarkannya, karena kelihatan tua. Aneh kan buat kita yang senang segala sesuatu yang mengkilap?

Terus yang juga unik adalah jalannya yang berliku naik ke atas bukit. Jadilah bude yang males naik turun bukit ini sekarang jadi terpaksa naik turun bukit. Oom Andre dan oom Alejandro yang dulu pernah tinggal di kota ini mengajak bude ke bekas tempat tinggal oom Andre. Wah bangunannya asik banget, tua, tapi di dalamnya sangat modern, dengan kelengkapan modern pula. Yang bikin nggak capek adalah banyaknya galeri-galeri kecil di segala penjuru kotanya. Kalau kita masuk ke galeri-galeri ini, pasti ada tempat untuk anak-anak belajar melukis. Asik banget lihat mereka dengan nggak takut-takut menggoreskan kanvasnya di kertas. Rencananya kami mau balik lagi untuk lihat kotanya dengan lebih seksama.

Mungkin nggak asik kalau Cuma ngomongin bangunannya dari luar. Kita mampir di bar yang namanya O’Higgins dan pesan diet coke. Bar ini mungkin sudah ratusan tahun ada disana. Kata oom Andre dan oom Alejandro, bar ini ada hantunya, hahaha.... katanya boneka-boneka yang ada disana kalau malam juga gerak-gerak. Adek Ilham pasti senang dengar cerita seperti ini ya.... Dan pada saat bude bilang pingin ke kamar kecil, mereka berdua langsung heboh bilang jangan, nanti hantunya keluar katanya. Ah dasar penakut aja dua-duanya!!!

Satu lagi tempat yang unik banget adalah restoran J. Cruz (bacanya Hota Kruz), yang letaknya di salah satu gang buntu. Aduh sedapnya aroma makanan waktu kita masuk. Dan tentu saja kita order ’chorrillanas’. Ini sudah merupakan tradisi kalau ke rumah makan ini. Bayangin ya: Chorrillanas yang datang ke meja kita adalah satu tempat saji makanan berbentuk oval (lodor) dan berisi segunung kentang goreng yang ditaburi oseng bawang bombay dan telur dengan daging sapi di atasnya. Wah kebayang kan apa kita bisa ngabisin segunung makanan ini atau enggak? Oom Andre dengan yakinnya bilang pasti bisa, karena kita sudah sangat lapar. Dan sedikit demi sedikit, dengan sambel ekstra pedas yang bude bawa dari Jakarta, bude juga ikutan ngabisin makanan ini. Percaya atau tidak, abis juga!!! Bagian dalam restoran ini dihiasi antara lain dengan bom dari jaman perang, pompa air jaman dahulu kala dan berbagai barang tua. Juga dihiasi dengan tandatangan orang-orang yang pernah makan disana, katanya sih sudah dari ratusan tahun lalu.

Yang unik juga di restoran ini adalah kita makan diiringi permainan gitar dan nyanyian balada yang dibawakan oleh si pemilik restoran. Orangnya kayak orang Italia, pendek, agak gendut, selalu tersenyum, tapi suaranya oke banget membawakan lagu-lagu balada asli Chile. Beberapa lagu tentang Valparaiso sangat terkenal, sampai-sampai pengunjung juga ikutan nyanyi. Seru kan?

Akhirnya kita siap-siap deh meninggalkan Valparaiso. Rencananya sih mau naik kereta ke salah satu kota terkaya di Amerika Latin, yaitu Vina del Mar. Eh nggak taunya stasiun dan rel keretanya sedang diperbaiki. Mereka ingin meningkatkan jasa pelayanan lewat kereta api ini, sehingga bisa sebagus pelayanan kereta api yang lain. Katanya jalurnya akan sampai di airport Santiago juga, jadi kalau mau ke Valparaiso dan Vina del Mar, ataupun resort Renaca, bisa naik kereta api.

Jadi akhirnya kita naik bis lagi deh ke Vina del Mar.

Vina del Mar letaknya 10 km dari Valparaiso, sama-sama di pinggir laut. Kota ini kebanyakan untuk tempat tinggal. Bayangkan tata kota berbentuk grid (kotak-kotak), dengan berpuluh-puluh jalan yang berawal di pinggir pantai dan berakhir di bukit. Pinggir pantainya diperkuat dengan dinding beton tebal dan ditambah dengan batu-batuan selebar kurang lebih 10 meter. Hal ini sengaja dibuat untuk menahan tsunami. Sebelum kejadian di Aceh, tsunami juga terjadi di Chile di tahun 60-an, dan sejak itu mereka sudah jaga-jaga. Nah jalan yang berawal dari pinggir pantai sampai ke bukit ini dirancang memang untuk jalan darurat juga kalau terjadi tsunami lagi. Nah di sepanjang jalan-jalan yang menuju bukit itulah berderet gedung-gedung apartemen, tempat tinggal orang Vina del Mar. Di bagian tengah kota memang ada hotel, kasino, restoran dan lain-lain, tapi yang namanya daerah tempat tinggal, ya hanya ada hunian aja. Paling juga ada mini market disana sini.

Setelah berkeliling di area perumahan dan mengunjungi apartemen yang dulu ditinggali oom Andre, kami bertiga jalan-jalan di pinggir pantai. Sepanjang pantai ada tempat pejalan kaki yang lebar dilengkapi dengan tempat duduk-duduk. Asik deh buat jalan-jalan sekeluarga, sama teman, dan lain-lain. Banyak juga anak-anak yang main sepeda di sini atau yang main di bebatuan di penangkal tsunami, tapi jarang yang main di pantainya karena sekarang sedang musim dingin di sini. Di pantai ini, kita langsung berhadapan langsung dengan Laut Pasifik, jadi nun jauh di sana kalau mas Adna dan adek Ilham sedang di Indonesia dan di pantai yang berhadapan dengan laut Pasifik, kita bisa dadah-dadah deh...! Saat matahari tenggelam di sini bagus juga bagus sekali...

Setelah jalan-jalan akhirnya kita makan es krim dan ngopi di salah satu cafe di pinggir pantai. Bayangkan, ini kan masih musim dingin tapi banyak orang makan es krim!! Aneh tapi nyata! Kok bisa-bisanya bude juga ikutan makan es krim ya...?

Akhirnya sampailah waktunya kita pulang ke Santiago. Untuk sampai ke terminal bis, kita naik andong pariwisata.... hehehe....tau nggak itu lho andong yang dihias bagus dan supirnya pake baju kayak baju kusir kereta kerajaan? Harusnya andong ini hanya digunakan untuk keliling-keliling kota untuk turis, tapi kita pake untuk pengganti taksi, hahaha.... Terus terang kita bertiga merasa malu juga pas sampai di terminal, jadi kusirnya kita suruh berenti agak jauhan....:-)

Sampai di bis, bude udah nggak tahan untuk tidur, karena cape sekali. Tapi oom Andre bete banget karena emang dia nggak pernah bisa tidur kalau di jalan, dan kelihatannya karena bude Ocie dan oom Alejandro tidur, dia tambah bete karena katanya supirnya lambat banget bawa bisnya.... hahaha.... kalo bude sih nggak kerasa deh, tau-tau sudah mau sampai Santiago.

Oke deh, itu cerita bude ketika jalan-jalan ke kota Valparaiso dan Vina del Mar. Sampai di cerita berikutnya ya...

Salam dari Santiago yang lagi dingin banget,

Bude Ocie

Surat dari Kediaman Pablo Neruda

Yang tersayang Adna dan Ilham,

Hallo, apa kabar mas Adna dan adek Ilham di Jakarta? Ayah dan Bunda sehat-sehat kan? Kapan mas dan adek ke Bandung menengok Eyang Kakung dan Eyang Putri? Tolong sampaikan kalau Bude Ocie dan Oom Andre sehat-sehat dan senang jalan-jalan di Amerika Selatan ya.

Di Chile, Bude Ocie dan oom Andre juga berkunjung ke salah satu rumah yang dulu ditinggali oleh penyair Pablo Neruda yang disebut La Chascona. Pablo Neruda adalah penyair Chile yang paling terkenal. Syair-syairnya masih sangat dihapal oleh orang Chile dan mereka masih sangat mencintai beliau walaupun sudah meninggal. Kalau tidak salah, beliau pernah menjadi dutabesar Chile di Indonesia lho, hanya bude lupa kapan tepatnya. Di depan La Chascona ada 6 tugu batu yang bertuliskan puisi yang konon paling disukai beliau. Sekarang tempat ini jadi tempat nongkrong penyair-penyair muda Chile.

Pada kesempatan lain, bude Ocie dan oom Andre juga mengunjungi rumah Pablo Neruda yang di Isla Negra. Sekarang rumah ini sudah direstorasi dengan indahnya dan menjadi Museo-Casa Pablo Neruda atau Rumah Museum Pablo Neruda. Rumah ini dibeli oleh Pablo Neruda pada tahun 1939 dan pada tahun-tahun terakhirnya, beliau menjadikan rumah ini sebagai tempat beliau menulis. Yang unik adalah rumah ini letaknya di pinggir tebing dan kita bisa melihat Laut Pasifik dari sini. Pablo Neruda ternyata takut melaut tapi sangat cinta laut. Jadi beliau membangun tempat yang menyerupai perahu dimana beliau berkarya. Konon beliau mendapatkan inspirasi kalau menulis di gubuk di sebelah rumahnya ini. Yang juga unik adalah beliau mendesain rumah ini seperti interior perahu. Di museum ini sekarang penuh dengan koleksi benda-benda yang diperoleh dari perjalanan beliau ke segala penjuru dunia, termasuk ke Indonesia. Pablo Neruda dan istrinya Mathilde juga dikuburkan di sini, tidak jauh dari rumahnya. Untuk masuk ke museum ini kita harus dipandu oleh pemandu/guide, dan membayar sekitar USD 4, tapi berhubung bude dan oom berkenalan dengan direktur museumnya, kami tidak perlu bayar bahkan diberikan pemandu khusus dan secangkir kopi panas setelah berkeliling.

Pulang dari Isla Negra, jalanan menuju Santiago sangat berkabut. Rasanya belum pernah bude naik mobil dalam keadaan berkabut seperti ini. Bayangkan sejauh 30 kilometer kabutnya sangat pekat, dan bahkan pada salah satu ruas jalan tol kami tidak boleh masuk karena katanya ada kecelakaan. Sangat menakutkan sih tapi pengalaman juga, karena ternyata ini hal biasa di sini. Untung oom Andre yang nyupir dan untung pula ada 2 orang teman yang juga akan pulang ke Santiago sehingga kita tidak berdua saja ditengah kabut pekat ini. Paling tidak ada penunjuk jalan kan? Kedua teman kami itu pergi ke Isla Negra untuk mempersiapkan acara ulang tahun Pablo Neruda yang masih selalu diperingati oleh masyarakat Chile dengan menggelar berbagai pertunjukan seni. Katanya pernah pada waktu ulang tahun beliau, yang datang ke Isla Negra ini mencapai 150 ribu orang!! Betapa cintanya masyarakat Chile kepada beliau ya? Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat di sana sangat cinta dengan puisi, apalagi dengan pusisi Pablo Neruda yang tidak hanya indah tapi juga penuh perjuangan.

Mudah-mudahan surat bude Ocie ini bisa menambah kecintaan Adna dan Ilham pada membaca, terutama membaca puisi dan novel karya orang-orang besar di dunia ya.

Peluk dan cium dari Chile,

Bude Ocie

Monday, March 26, 2007

Surat dari Santiago de Chile

Yang tersayang Adna dan Ilham,

Hallo, apa kabar mas Adna dan adek Ilham di Jakarta? Bude Ocie dan oom Andre sekarang sudah di kota Santiago di Chile. Bude Ocie harus terbang selama 30 jam dari Jakarta ke Santiago!!! Bude harus terbang ke Singapura, terus ke Frankfurt di Jerman, dan terus ke Sao Paulo di Brazil, baru ke Santiago di Chile. Kalau oom Andre, waktu itu tidak langsung terbang dari Jakarta, tapi dari Stuttgart di Jerman setelah menengok ibunya, jadi bude dan oom ketemu di Frankfurt sebelum sama-sama ke Santiago. Kebayang kan capainya, padahal kami berdua naik pesawat di kelas bisnis. Tidak terbayang kalo harus naik di kelas ekonomi. Pasti remuk redam deh. Kami masih bisa tidur dengan posisi terlentang, jadi tidak terlalu sakit di badan. Di Singapura dan di Frankfurt, bude harus ganti pesawat, jadi sempat jalan-jalan sedikit di airportnya, tapi di Sao Paulo kita tidak boleh keluar dari pesawat, harus tunggu selama kurang lebih 1 jam di dalam pesawat sementara mereka isi bahan bakar dan mengangkut penumpang dari Sao Paulo yang mau terbang ke Santiago.

Santiago adalah ibukota negara Chile yang merupakan kota ke-5 terbesar di Amerika Selatan. Santiago terletak di lembah luas yang datar tapi dengan latar belakang pegunungan Andes di Utara kotanya. Gunung-gunung itu hampir sepanjang tahun ditutupi salju dan letaknya hanya 100 km dari Santiago. Gunung Aconcagua yang merupakan gunung tertinggi dengan ketinggian 6,964 m di Pegunungan Andes terletak di Chile. Pemandangannya mungkin seperti kalau kita di rumah eyang di Bandung melihat ke gunung Tangkuban Perahu, tapi di sini gunungnya berbaris dan bagian atasnya tertutup salju. Indah sekali deh. Kota Santiago dibelah oleh Sungai Mapocho, yang di tengah kota melalui kanal buatan dengan lebar sampai 40 meter. Sekarang ini, Santiago punya jalan tol di samping sungai ini sehingga kalau mau masuk atau keluar kota ini bisa sangat mudah walaupun harus bayar. Pada saat pembangunan jalan tol ini mereka harus mengeringkan dulu sungainya selama beberapa tahun. Tapi dengan cara ini mereka punya jalan tol yang terletak di bawah tanah, sehingga tidak mengganggu pemandangan kotanya. Hebat ya, bude juga belum tahu bagaimana proses mereka membuatnya. Sekarang ini sungainya sudah dilewati air yang jernih lagi dari pegunungan Andes dan bersanding dengan jalan tol dalam kota.

Santiago kota yang indah lho, tidak terbayang sama sekali sebelumnya kalau kota ini justru lebih menarik daripada kota-kota di Eropa. Bude sangat senang dengan penataan kotanya dan juga bentuk-bentuk bangunannya. Menurut teman oom Andre yang arsitek di Santiago, bangunan-bangunan yang ada di kota ini sangat khas Amerika Latin dan dibangun dengan mempertimbangkan bahwa negaranya sering dilanda gempa. Hanya 2 hari sebelum kami sampai di Chile, ada gempa bumi dengan kekuatan 7,9 skala Richter di Iquique, yang letaknya di Chile bagian Utara. Walaupun secara keseluruhan banyak bangunan yang rusak, tapi bangunan modernnya tidak banyak yang rusak.

Kota Santiago bersih sekali dan hampir di seluruh penjuru kota punya tempat pejalan kaki, bahkan di pusat kota tempat pejalan kaki ini sangat lebar-lebar. Kalau menurut bude, hal ini juga yang membedakannya dengan kota-kota di Eropa. Gedung-gedung yang didesain untuk tahan gempa kebanyakan berbentuk lebih kecil di atas, hampir seperti piramid di atasnya, dan hal ini membuat kotanya jadi sangat menarik untuk dilihat. Tidak membosankan sama sekali. Rasanya bude ingin sekali memotret semua gedungnya dan nanti perlihatkan ke Adna dan Ilham di Jakarta.

Hari pertama datang di Santiago, walaupun capai tapi kami langsung jalan-jalan naik metro ke Plaza de Armas. Udara saat itu sangat tidak menyenangkan, dingin dan hujan rintik-rintik. Untung bude bawa overcoat yang ada topinya, tapi kita lupa bawa payung, jadinya oom Andre cukup basah deh. Plaza de Armas adalah jantung kota Santiago; boleh dibilang sebagai alun-alun kota deh. Di bagian Timur dan Selatannya dipenuhi dengan toko-toko, di Utara ada Kantor Pos dan Kantor Walikota, dan di bagian Barat ada Katedral dan Istana Archbishop. Mungkin penataan ini mirip dengan penataan di alun-alun kota di Indonesia ya. Contohnya di Bandung, di Timur ada pertokoan, di Utara ada Kantor Pos dan kantor-kantor lain, di Selatan ada kalau tidak salah kantor pemerintahan, hanya yang membedakan di Bandung ada Mesjid Agung dan bukan Katedral. Namun demikian, yang paling membedakan Plaza de Armas dengan alun-alun Bandung adalah besarnya dan kebersihannya. Di sini tidak ada orang yang berjualan sembarangan. Kita bisa duduk-duduk menikmati keindahan air mancur, hijaunya taman ataupun hanya untuk memperhatikan orang-orang yang lalu lalang disana. Di Santiago, kita bisa bertemu dengan orang dari berbagai bangsa. Kebanyakan sangat memperhatikan penampilan mereka. Dalam musim dingin seperti sekarang ini, hampir semua mengenakan overcoat yang stylish dengan warna standar kalau tidak hitam, abu-abu tua, atau krem. Mereka juga mengenakan sepatu boot yang keren-keren berwarna-warni. Di plaza ini juga kita bisa melihat banyak orang lanjut usia yang asik bercengkerama. Bude jadi ingat kedua eyangmu di Bandung yang tidak punya kesempatan seperti mereka disini. Sayang sekali ya, padahal kalau saja alun-alun Bandung bisa seperti itu kan eyang kakung bisa latihan jalan disana dan eyang putri bisa mengagumi taman-tamannya.

Masih di Plaza de Armas ini, kita juga bisa mengunjungi Museo Historico Nacional atau Museum Sejarah Nasional yang isinya penjelasan sejarah Chile sejak jaman pendudukan sampai tahun 1925. Tidak jauh dari Plaza de Armas, kita juga bisa melihat Casa Colorada yang dibangun pada tahun 1769 yang dulu menjadi tempat tinggal Gubernur pada jaman kolonial dan sekarang menjadi Museo de Santiago atau Museum Santiago. Seluruh area di sekitar Plaza de Armas ini khusus untuk pejalan kaki saja, mobil tidak dibolehkan masuk ke area ini. Untuk mas Adna dan adek Ilham yang suka jalan-jalan ke Museum, pasti senang deh kalau berkunjung ke Santiago, karena banyak sekali museum di kota ini dan koleksi-koleksinya juga bagus-bagus.

Hari berikutnya bude dan oom Andre jalan-jalan ke bagian kota lama Santiago. Tidak banyak turis yang mengunjungi bagian kota ini, tapi karena oom Andre dulu pernah tinggal di sini, maka bude diajak menyusuri jalan-jalan kota lama yang tidak terlalu ramai. Di sini ada Plaza Brasil dengan Basilica del Salvador hanya 2 blok dari sana, dan tidak jauh dari sana ada Avenida Matucana dengan Estacion Central di ujungnya. Bagian kota ini dulunya paling miskin, tapi oleh pemerintahan sekarang malah diubah menjadi pusat seni. Gedung-gedungnya direnovasi dan dijadikan Museo de Arte Moderne atau Museum Seni Modern, Cultural Centres atau pusat-pusat kebudayaan, Teater-teater, dan lain-lain. Jadi bagian kota yang dulunya kumuh sekarang tidak ada lagi, dan orang-orang kaya dipaksa untuk datang kesini karena banyak sekali pertunjukan ataupun pagelaran ataupun pameran seni di area ini sekarang. Hebatnya pula, mereka membangun jaringan metro-nya sampai sini juga, jadi semua kelas masyarakat dilayani sama rata. Estacion Central merupakan bangunan yang juga sangat menarik karena konon dibangun oleh Eiffel (tahu kan yang membangun Menara Eiffel di Paris?). Atap stasiunnya juga dibuat dari besi baja seperti yang ada di Menara Eiffel. Bagus dan unik deh.

Tidak jauh dari situ juga terdapat Parque Quinta Normal yang dulunya dibangun sebagai kebun raya di tahun 1830, tapi sekarang menjadi taman kota yang indah, luas dan sangat hijau. Kita tidak perlu bayar apapun untuk jalan-jalan di taman ini. Letak taman ini tepat disebelah stasiun Quinta Normal, yang saat ini menjadi stasiun terakhir ke arah area ini.

Kami juga pergi mengunjungi Museumnya Salvador Allende atau nama lengkapnya Museo de la Solidaridad Salvador Allende. Museum ini sengaja dibangun di bagian kota yang paling miskin sebagai ungkapan solidaritas kepada penduduknya yang miskin pada saat itu, tapi ternyata Museumnya tutup, konon karena ada pergantian direktur yayasannya. Untungnya oom Andre agak ngotot minta masuk bilang mau ngintip aja sebentar, eh malah bisa ngobrol sama kuratornya dan selanjutnya diperkenalkan pada ketua Yayasan Salvador Allende, sebuah LSM (lembaga swdaya masyarakat) terbesar di Chile untuk urusan hak-hak asasi manusia. Museum ini biasanya menggelar koleksi karya-karya seniman dari Amerika Latin dan Eropa yang disumbangkan ke Chile antara tahun 1970 dan 1973 untuk menunjukkan rasa solidaritas mereka dengan pemerintahan presiden Allende. Presiden Salvador Allende adalah presiden yang dijatuhkan pada saat kudeta militer tahun 1973 di Chile, dan beliau meninggal ditembak di istana kepresidenan La Moneda yang pada waktu itu beliau pertahankan. Istana ini sekarang ini sedang direnovasi, jadi bude tidak bisa berkunjung kesana.

Hari itu kami makan siang bersama oom Alejandro di restoran yang dulunya menjadi tempat pengambilan gambar film terkenal ’Agua para Chocolate’. Tempatnya asik banget, bergaya Mexico lengkap dengan sumur tua dan teras rumah yang memanjang, dan yang penting makanannya itu lho, sedap sekali.

Hari itu kami mampir di apartemen oom Alejandro yang terletak di tengah kota, tepatnya di Plaza Italia. Apartemennya terletak di lantai 18 dan sangat berpotensi jadi apartemen yang sangat indah. Sekarang ini oom Alejandro masih melakukan renovasi sana sini di apartemennya, jadi masih belum kelihatan rapi. Pemandangan dari terasnya sangat indah, kita bisa lihat kota Santiago dengan latar belakang pegunungan Andes dengan puncaknya yang masih ditutupi salju. Wah romantis sekali ya!

Kami juga berkunjung ke salah satu rumah yang dulu ditinggali oleh penyair Pablo Neruda yang disebut La Chascona. Pablo Neruda adalah penyair Chile yang paling terkenal. Syair-syairnya masih sangat dihapal oleh orang Chile dan mereka masih sangat mencintai beliau walaupun sudah meninggal. Kalau tidak salah, beliau pernah menjadi dutabesar Chile di Indonesia lho, hanya bude lupa kapan tepatnya. Di depan La Chascona ada 6 tugu batu yang bertuliskan puisi yang konon paling disukai beliau. Sekarang tempat ini jadi tempat nongkrong penyair-penyair muda Chile.

Bude lanjutkan dengan kunjungan ke tempat-tempat budaya lain di kota Santiago ya. Kita mulai dengan Museo Nacional de Bellas Artes atau Museum Nasional Seni Murni. Gedung museumnya bergaya art-nouveau, keren banget, dan salah satu sayapnya sedang direnovasi. Kelihatannya Chile sedang banyak melakukan renovasi. Banyak sekali bangunan tua yang direnovasi dijadikan bangunan publik, seperti museum, pusat kebudayaan, dan lain-lain, tapi juga sedang banyak dilakukan pembangunan baru. Salah satu yang kita lewati beberapa hari lalu di Avenida Matucana adalah pembangunan Perpustakaan Nasional yang besaaaar sekali, padahal mereka sudah punya Biblioteca Nacional yang juga besar dan digunakan untuk konser dan pameran kontemporer. Kami berdua terbengong-bengong melihat besarnya calon perpustakaan ini. Betapa beruntungnya penduduk Santiago nanti mempunyai perpustakaan nasional yang begitu besar dan modern. Kapan ya Indonesia mempunyai yang seperti ini?

Kembali ke Museo Nacional de Bellas Artes, pada saat kami kunjungi hari Jum'at itu penuh dengan anak-anak sekolah, mulai anak SD sampai SMA. Di museum ini, obyek tetapnya adalah lukisan-lukisan dan patung-patung karya pelukis dan pematung Chile maupun asing. Tiket masuknya 2 dolar. Sebetulnya untuk kami berdua bisa gratis karena kami punya kartu wartawan, tapi kami pikir biaya masuknya tidak seberapa dan mungkin bisa untuk membiayai pameran yang lain. Untuk 2 bulan ini, museum ini menggelar 64 patung dan sketsa dari Auguste Rodin yang langsung diterbangkan dari Museum Rodin di Paris. Auguste Rodin adalah salah satu pematung paling terkenal di dunia. Bayangkan betapa penduduk Santiago dimanjakan dengan karya-karya yang spektakuler di sini, dan hal ini sangat dimanfaatkan oleh para pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum. Rasanya iri banget deh kalau membandingkannya dengan Museum Nasional di Jakarta. Kapan ya mereka bisa seperti ini? Bude ingat pergi kesana beberapa bulan lalu, tiket masuknya hanya Rp. 2,000 tapi kondisi museumnya sangat memprihatinkan. Mas Adna dan adek Ilham juga pernah kesana kan? Bude belum pernah ke sayapnya yang baru, tapi rasanya kok jauh banget ya perbedaannya dengan yang ada di luar negeri, terutama dalam hal koleksi dan pengaturannya dan yang lebih penting lagi pemeliharaannya.

Selain Rodin, di museum itu juga sedang digelar karya-karya kontemporer lain, tapi kami tidak sempat mengunjunginya karena rasanya masih sangat terkesan dengan karya-karya Rodin. Mungkin nanti kalau kembali ke Chile, kami akan kesini lagi. Dan katanya setelah pameran karya Rodin, Santiago akan mendatangkan karya Salvador Dali.

Keluar dari museum, kami berdua duduk-duduk di depan museum sambil menikmati 'juggler' yang lagi beraksi di jalanan (itu lho seperti badut yang beraksi lempar beberapa bola bersamaan, tidak tau deh namanya apa di Jakarta ya). Di Santiago ini, ada juga orang yang jualan di lampu-lampu merah tapi jumlahnya tidak banyak dan biasanya mereka berasal dari Peru, tapi yang mereka jual hanya permen, coklat, dan minuman. Walaupun Chile termasuk negara kaya, bukan berarti tidak ada mobil butut yang mogok. Pas kami berdua sedang duduk-duduk disitu, eh ada mobil yang kepanasan radiatornya. Jadi inget jaman dulu waktu mobil bude masih Honda Civic tahun 77!!! Hahaha....

Setelah puas menonton orang yang lalu lalang di situ, kami berdua ngopi di salah satu kedai kopi di dekat museum. Ternyata kebanyakan kedai kopi punya galeri, jadi selain menyeruput kopi panas kita juga bisa pergi melihat karya-karya kontemporer di galerinya.

Kami meneruskan jalan kaki melewati Cerro Santa Lucia, sebuah bukit berbatu yang tingginya 70 meter di tengah kota. Tapi kali ini kami tidak naik ke atas bukit, karena terus terang saja bude kan paling males untuk naik bukit, hehehe.... Katanya di bukit ini ada patung pemimpin Mapuche. Mapuche adalah suku bangsa asli di Chile.

Kami melanjutkan dengan jalan kaki mengelilingi bagian tengah kota yang dulunya penuh apartemen mahal tapi sekarang apartemen-apartemen mahal sudah pindah ke bagian kota bernama Providencia dan Las Condes. Jalan kaki di tengah kota Santiago enak sekali karena tempat pejalan kakinya lebar dan mulus. Tidak sengaja kami melewati Museo Arqueologico de Santiago (Museum Arkeologi Santiago) dan Museo de Artes Visuales (Museum Seni Visual), yang selain menggelar karya-karya seni arkeologi, antropologi Chile dan jaman pra-Colombia, mereka sekarang juga dilengkapi dengan museum fotografi dan video. Gratis masuk ke kedua museum ini.

Malam harinya bude, oom Andre dan oom Alejandro pergi makan ke suatu tempat di tengah kota, tidak jauh dari Plaza Italia yang namanya Bellavista. Tempat ini penuh dengan restoran, cafe, dan tempat pertunjukan lain. Kami makan malam di kafe yang sangat antik dekorasinya, namanya Azur Profundo (artinya Biru Tua). Tempat ini penuh dengan orang-orang yang makan malam bersama kelompoknya. Suasananya ramai sekali. Sebagai orang dari Amerika Latin, mereka senang pergi bercengkerama, makan, minum dengan teman-temannya. Suasana seperti ini selalu diiringi dengan lagu-lagu berirama latin yang riang gembira. Dan makanannya itu lho..... wuih, endang bambang gurindang!! Semua makanan dari seafood yang segar, dan rasanya enaaaaakkkk! Makanan favorit bude di Chile adalah 'macarones a pil-pil': masakan udang segar pake cabai merah gitu tapi bukan seperti balado lho! Pokoknya sedap deh.

Setelah makan malam kami bertiga pergi ke restoran di seberangnya yang akan menggelar tari Flamenco. Di sini sebelum pertunjukan tari flamenco, kami dihibur dengan lagu-lagu balada Spanyol yang keren abis. Penyanyi ceweknya sudah agak tua tapi suaranya bagus sekali!! Band yang mengiringinya 3 orang cowok yang masih muda dan keren, hehehe, eh terus yang nari flamenco ternyata cowok!! Tapi bagus juga! Bertahun-tahun lalu bude pernah lihat orang menari flamenco di Jamz, tapi yang di Santiago ini kayaknya lebih keren deh.

Bude Ocie dan oom Andre juga pergi ke Opera, melihat pertunjukan opera dengan judul Lohengrin, yang diciptakan oleh komposer Richard Wagner. Beliau adalah komposer kelas dunia, dan di Jakarta bude belum pernah lihat opera klasik seperti ini. Tapi opera ini bukan untuk anak-anak, terlalu berat jenis musiknya. Bude dan oom Andre di sini juga dapat tiket murah setengah harga karena belinya 2 jam sebelum pertunjukan dimulai. Pertunjukannya dipenuhi oleh orang-orang Santiago yang kelihatannya kebanyakan orang kaya. Mereka pergi ke konser dengan dandanan yang keren-keren, tapi kok banyakan orang tua ya... hehehe... Untuk opera anak-anak, kebetulan pas bude di sini tidak ada pertunjukannya, jadi bude tidak tahu apa yang biasanya dipertunjukan di sini. Selain opera untuk anak, ada juga teater dan bioskop yang memainkan tema anak-anak. Di sini, orang rajin sekali mengantri, karena untuk masuk ke teater ataupun bioskop mereka harus antri. Tidak seperti di Indonesia yang sudah diberi nomor tempat duduk, di sini orang bebas mau duduk dimana saja, makanya mereka antri supaya bisa pilih tempat duluan.

Karena bude belum bisa berbahasa Spanyol, maka waktu bude nonton film disini, bude tidak mengerti artinya, hanya menikmati alur cerita dan gambarnya saja....hehehe.... tapi nggak nyesel kok, karena bude sambil belajar mengerti bahasa Spanyol. Kami berdua pergi nonton film dari Korea dan dari Rusia.

Cium sayang dari Santiago,

Bude Ocie